JAKARTA — Kenaikan harga pakan kembali menekan peternak ayam, di tengah data resmi yang menunjukkan produksi jagung nasional justru meningkat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian antara statistik produksi dan situasi riil di lapangan.
Dalam dialog itu disebutkan bahwa posisi peternak terjepit antara kenaikan harga bahan baku dan harga jual ayam maupun telur yang rendah. Harga telur sekitar Rp24.000 per kilogram dinilai sebenarnya masih dapat diterima apabila harga pokok produksi tetap rendah. Persoalannya, biaya pakan terus meningkat.
Saksikan tayangan lengkap Indonesia Bussiness Forum, melalui kanal Yutube
Produksi Naik, Harga Jagung Tetap Tinggi
Guru Besar IPB University sekaligus Ketua Umum AB2TI, Prof. Dwi Andreas Santosa, menyoroti adanya anomali pada data jagung nasional.
Menurut data BPS yang ia kutip dalam diskusi, produksi jagung tahun 2026 meningkat sekitar 1,5 persen, dengan total produksi Januari–November sekitar 15,4 juta ton pada kadar air 14 persen. Namun, kondisi tersebut menurutnya tidak tercermin di lapangan.
AB2TI memiliki jaringan tani di 123 kabupaten dan kota. Dari pemantauan jaringan tersebut, Dwi Andreas menyebut ketersediaan jagung di sejumlah sentra justru terbatas, sementara harga di tingkat petani meningkat tajam. Di Madura, misalnya, harga jagung disebut telah mencapai sekitar Rp8.500 per kilogram di sawah.
Perbedaan antara data produksi dan harga pasar inilah yang dinilainya perlu dijelaskan.
Kebutuhan Pakan Juga Meningkat
Pemerintah dalam dialog tersebut menyampaikan adanya kenaikan kebutuhan pakan pada 2026 sekitar 800.000 ton dibanding tahun sebelumnya. Dengan jagung menyumbang sekitar 40 persen komposisi pakan, peningkatan kebutuhan jagung diperkirakan mencapai sekitar 300.000 ton.
Faktor ini dapat menjelaskan sebagian tekanan pasokan, tetapi belum sepenuhnya menjawab mengapa harga tetap tinggi ketika produksi secara statistik juga meningkat.
Di pasar internasional, dalam tayangan disebutkan harga jagung berada sekitar Rp3.500 per kilogram FOB, atau sekitar Rp5.000–Rp5.500 setelah memperhitungkan biaya pengiriman, sementara harga jagung domestik berada pada kisaran Rp7.500–Rp8.000 per kilogram. Selisih tersebut dinilai cukup besar untuk memengaruhi harga pokok pakan.
Risiko Berbalik Menjadi Lonjakan Harga
Tekanan yang berlangsung terlalu lama juga dinilai dapat memicu persoalan baru. Dwi Andreas menyebut sejumlah peternak ayam petelur telah melakukan afkir hingga sekitar 20 persen dan tidak seluruhnya mengganti ayam yang dikeluarkan dari populasi.
Jika berlangsung luas, populasi ayam petelur dapat turun dan memicu kenaikan harga telur pada awal 2027.
Karena itu, persoalan utama bukan sekadar apakah produksi jagung secara statistik surplus atau tidak. Pemerintah perlu memastikan bahwa data produksi, kebutuhan pakan, stok riil, serta harga di tingkat petani benar-benar saling sesuai.
Tanpa data yang akurat, kebijakan pangan berisiko terlambat membaca masalah: hari ini peternak tertekan oleh mahalnya pakan, beberapa bulan kemudian konsumen bisa menghadapi lonjakan harga akibat produksi yang menurun.
Sumber: Tayangan Indonesia Business Forum melalui YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=mDvxVcHEQrM.