JAKARTA — Peternak ayam rakyat tengah menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga pakan yang tidak diikuti kenaikan harga ayam dan telur. Kondisi ini dibahas dalam program Indonesia Business Forum yang ditayangkan melalui YouTube.
Tonton tayangan Indonesia Business Forum melalui Youtube
Peternak Terjepit
Dalam dialog tersebut, peternak menyebut harga pakan telah naik cukup tajam, sementara harga ayam dan telur cenderung stagnan bahkan berada di bawah harga acuan. Akibatnya, biaya produksi meningkat tetapi harga jual tidak mampu menutup harga pokok produksi.
Peternak ayam Parjuni menyebut kerugian ayam pedaging dapat mencapai sekitar Rp2.000–Rp2.500 per ekor. Ia memperingatkan, jika kondisi terus berlangsung, banyak peternak hanya mampu bertahan kurang dari dua bulan.
Persoalan utama berada pada tingginya harga bahan baku pakan, terutama jagung, yang menjadi salah satu komponen terbesar dalam ransum ayam.
Dwi Andreas: Ada Persoalan Data dan Kebijakan
Guru Besar IPB University sekaligus Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Prof. Dwi Andreas Santosa, menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan pada kebijakan dan data pangan.
Ia mempertanyakan perbedaan antara data resmi yang menunjukkan produksi jagung meningkat dengan kondisi di lapangan yang justru memperlihatkan harga jagung tetap tinggi dan pasokan sulit diperoleh di sejumlah daerah.
Menurut Dwi Andreas, jaringan tani AB2TI yang tersebar di 123 kabupaten dan kota menemukan kondisi pertanaman dan ketersediaan jagung yang tidak selalu sesuai dengan gambaran statistik nasional.
“Kalau harga naik terus berarti ada masalah. Walaupun data menunjukkan surplus, tetapi harga naik terus, itu tidak masuk akal,” ujarnya dalam dialog tersebut.
Ia juga menyoroti kebijakan pengelolaan impor bahan baku pakan yang dinilainya harus mempertimbangkan kesiapan BUMN dan dampaknya terhadap biaya pakan.
Solusi: Perbaiki Data dan Stabilkan Pasokan
Dwi Andreas menilai langkah paling mendasar adalah memperbaiki akurasi data produksi dan kebutuhan pangan. Data yang tidak sesuai kondisi lapangan berisiko menghasilkan kebijakan yang keliru.
Dalam kondisi darurat, ia juga membuka kemungkinan impor jagung secara terukur, terbatas, dan terkendali apabila memang dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan peternak.
Selain itu, pemerintah didorong memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah. Ketika harga ayam atau telur jatuh, pemerintah dapat melakukan penyerapan. Sebaliknya, ketika harga melonjak, stok dapat dilepas untuk menstabilkan pasar.
Dwi Andreas sebelumnya mengusulkan pemerintah menguasai sekitar 5 persen pasokan komoditas strategis sebagai instrumen penyangga harga.
Jangan Tunggu Peternak Berguguran
Tekanan terhadap peternak tidak hanya berisiko mematikan usaha rakyat. Jika banyak peternak mengurangi populasi atau berhenti berproduksi, beberapa bulan kemudian pasar justru dapat menghadapi kekurangan pasokan dan lonjakan harga.
Karena itu, persoalan peternakan ayam tidak cukup diselesaikan dengan menjaga harga murah di tingkat konsumen. Pemerintah juga perlu memastikan peternak memperoleh harga yang layak, bahan pakan tersedia dengan harga terjangkau, serta kebijakan disusun berdasarkan data yang benar.
Sumber utama: Tayangan Indonesia Business Forum melalui YouTube, https://www.youtube.com/live/57FvtZTGDjs.